
Bismillahirrohmanirrohim…
Dengan nama Allah yang maha mulia yang menciptakan banyak suku dan bangsa, yang dengan itu semua adanya keindahan kebersamaan diantara kita, yang juga menimbulkan keragaman adat dan budaya.
Seorang pemuda Minang Kabau yang terlahir di Desa Malintang tanah runtuh, Salimpaung Batu Sangkar 05 Oktober 1980 lalu, kembali dari rantau dengan segenap kerinduan dan harapan kepada negeri tercintanya tanah minang kabau, kerinduan dengan kedamaiannya, ketentramannya, kepada kampung halamanya yang menjadi sebab kebanggaanya.
Minang adalah suku penjelajah dunia, yang telah menjadi pengetahuan umum diseluruh daerah, bahwasanya dimana ada langit dijunjung disana pernah ditapaki orang minang itulah dia suku penjelajah, yang memiliki kehebatan secara alami dengan filsafat kecerdasan tingkat tinggi yaitu “ Takilek ikan dilauik, jaleh jantan batinonyo “ yang berarti kecepatan dan ketepatan dalam memahami, menilai dan memutuskan, namun juga memiliki filsafat penguasa dengan segenap egonya yang sulit difahami sebagian orang dengan pribahasa “ Takuruang nak dilua, tahimpik nak diateh, kok ragangnyo manjulai-julai, kok kanduanyo raso kaputuih “ sebuah falsafah minang yang paling sulit diterima orang lain yang tidak berdarah minang,
Minang kabau memiliki sebuah adat yang melegendaris dengan kekuatan Syari’ahnya dengan sebuah filsafah besar “ ADAT BASANDI SARAK, SARAK BASANDIKAN KITABULLAH “ sebagai putra minang saya sangat bangga dengan hal ini, yang berarti setiap aturan dan keputusan adat yang baku sudah pasti sesuai dengan syari’ah, dan syaria’ah yang dimaksud adalah yang sesuai dengan Kitabullah ( Al-Qur’anul karim ), hal inilah yang membuat sumatera barat secara khusus dan Minang kabau secara umum pada masa lalunya banyak menciptakan tokoh –tokoh bangsa dan ulama serta cendikiawan yang melegendaris, karena komitment “ Adat babuhua sentak, Sarak Babuhua mati “ yang dipegangnya membuat Minang kabau memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga menciptakan orang-orang yang luar biasa cerdas dengan ketaatannya kepada syari’ah, dan mampu menjadi penguasa hingga kenegeri sembilan Malaysia, ITULAH SUKU MINANG KABAU DIMASA LALU….
Sayang saat ini kebesaran nama Minang itu seakan terbang dibawa angin, lenyap diterjang badai yang memutari Langit Minang, Kebesaran nama itu sekarang menjadi sejarah yang hanya untuk dibanggakan tanpa ada yang berusaha menduplikasinya, kami para pemuda minang khususnya saya sendiri sangat bertekat untuk mengulang kembali kekuatan sejarah minang tersebut, tapi sayang saya terbentur dengan kebimbangan dan contoh negative dari para tokoh adat dan niniak mamak diranah minang, yang membuat saya bingung untuk membedakan mana yang adat minang dan mana yang disebut dengan EGO orang minang, niniak mamak yang pantang menerima kritikan meski membangun, bersikap seakan paling tau dan ahli padahal terbukti amatir, yang memiliki cerita melebihi ukuran badan dan usianya, diakui atau tidak saya dan kita semua banyak menemui hal semacam ini.
Selama 2 Tahun saya pernah menjalankan sebuah hoby Photografer’s disebuah studio Digital New Azesstac Photografer, sehingga saya sering dan hampir tiap minggu hadir pada pesta pernikahan yang kental dengan adat minang, dan meski saya sudah lama meninggalkan dunia photographer beberapa waktu lalu saya menemui pengalaman pahit secara langsung perihal sesuatu yang dikatakan ADAT, yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini dengan judul “ Adat basandi sarak, sarak basandikan kitabullah VS Adat basandi Ego, Ego Basandikan Harga Diri “ dengan harapan membuka pola fikir dan sikap para niniak mamak serta tokoh adat diranah minang kedepannya, bila hal ini sangat menyinggung mereka, maka saya bangga melakukannya asal kedepannya Adat minang bisa kembali sesuai dengan syari’ah, Dicela dan dibenci oleh tokoh adat tidaklah menakutkan lagi bagi saya, karena biasanya kebaikan seperti apapun yang kita lakukan bila tidak sesuai dengan Ego niniak mamak hasilnya sama dengan kegiatan negative yang ditidak direstui juga, contohnya saja kepengecutan seorang mempelai pria diranah minang saat istri dan keluarga istrinya di tekan dan direndahkan secara adat karena sedikit kehilafan yang nyata tak disengaja, kepengecutan itu dianggap baik oleh niniak mamak, jika hal ini justru dapat menjadi motivasi bagi para niniak mamak dan tokoh adat diranah minang, sebelumnya saya memohon maaf karena melangkahi orang tua yang bijak yang seharusnya menjadi teladan bagi kami putra putri minang.
Perbandingan Syarak dengan Ego
Alhamdulillah Saya sudah 2 kali menikah, setelah Alm Istri pertama saya meninggal saya menikah lagi dengan gadis bukittinggi, dan syukurnya saya belum pernah merayakan resepsi pernikahan yang biasa disebut baralek, karena biasanya 90% itu hanya sarana perang Ego antar keluarga, Seperti yang kita ketahui secara umum, hampir pernikahan diranah minang merupakan pernikahan 2 orang saja, bukan ikatan 2 keluarga.
Hukum Syari’ah VS Adat Minang Modern:
Pernikahan adalah sesuatu yang dalam agama termasuk kepada 3 hal yang harus disegerakan, Sehingga digandengkan dengan Sholat dan Penyelengaraan Jenazah ( Al-Hadist )
Tapi dalam Adat Modern Kekhilafan sedikit karena kesibukan yang besar sehingga terlupakan salah satu barang seperti daun sirihnya atau mungkin payung penjemput mempelainya hal itu bisa memicu terundurnya sebuah pernikahan tergantung setinggi apa ego pelakunya.
Pernikahan dalam agama merupakan ikatan silaturrahmi dua keluarga
Dalam Adat Modern pernikahan hampir hanya focus kepada ikatan dua orang, sehingga sangat sering dan dianggap biasa saling merendahkan dan menjelekkan keluarga besan dalam suasana pernikahan, meskipun niniak mamak setempat merupakan tokoh agama yang tau dengan syari’ah.
Perceraian merupakan hal yang halal tapi dibenci oleh Allah
Dalam adat modern sering kali perceraian diawal pernikahan hanya karena dipicu masalah adat yang katanya babuhua sentak.
Seorang anak dalam agama adalah milik bapaknya
Dalam Adat seorang anak menjadi hak Mamaknya ( Paman )
Sikap Sportif dan bertanggung jawab sebagai seorang suami adalah wajib dalam agama
Dalam adat modern seorang suami dianggap salah bila membela hak keluarga barunya jika sedikit menyinggung adat modern tersebut kepada niniak mamaknya.
Sholat tepat waktunya adalah fardhu a’in bagi setiap muslim
Dalam adat modern sholat merupakan urutan no 4 setelah semua kelengkapan adat terpenuhi, sehingga sangat sering pengantin dan keluarganya meninggalkan sholat demi sesuatu yang disebut Adat.
Kesimpulanya jika karena tidak mengikuti dan tidak menghargai ADAT MODERN ini saya dikatakan anak tidak beradat, maka dengan bangga saya katakan saya senang menjadi bagian dari orang-orang yang tidak beradat modern tersebut.
Kepada yth Guru kita bersama Angku Yus Datuak Parpatiah yang luar biasa karyanya di ranah minang yang menjunjung tinggi adat yang sebenar-benar adat di ranah minang. Saya mohon dengan sangat Nasehat yang luar biasa telah diberikan kepada kami generasi muda, khususnya dalam nasehat Pitaruah Ayah, tapi saya mohon juga ada dibuatkan nasehat untuk para orang yang ngaku-ngaku niniak mamak dan tokoh adat modern diminang kabau, agar Adat minang yang melegenda tidak tercoreng karena sikap dan Ego generasi modern, Saya sampai sekarang masih membagi-bagikan MP3 Pitaruah Ayah dari Angku Yus Dt Parpatiah, sayangnya saya gak tau no Kontak atau email beliau, bagi siapapun yang bisa berbagi informasi tentang keberadaan Angu Yus Dt Parpatiah saya mohon untuk diinfokan kepada saya, semoga usaha kita semua dalam Reformasi Positif Adat Minang kabau untuk Baliak ka Nagari Asa, bisa sama-sama kita wujudkan. Afwan-Jazakallah
Dari : Jhoni Chandra Abdul Aziz Ibnu Sofyan Al-Fadanni dari suku Lucky Parit Cancang
TERIMA KASIH ATAS PENGHARGAAN YANG DIBERIKAN ROC KEPADA SAYA
TERIMA KASIH ATAS PENGHARGAAN YANG DIBERIKAN ATPM KAISAR MOTORINDO INDUSTRI KEPADA SAYA
